Fenomena yang terjadi di Indonesia

Fenomena yang terjadi di Indonesia

 

Situs Candi Muara Takus adalah sebuah situs candi Buddha yang terletak di di desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto, Kabupaten Kampar, Riau, Indonesia. Situs ini berjarak kurang lebih 135 kilometer dari Kota Pekanbaru.

Situs Candi Muara Takus dikelilingi oleh tembok berukuran 74 x 74 meter, yang terbuat dari batu putih dengan tinggi tembok ± 80 cm, di luar arealnya terdapat pula tembok tanah berukuran 1,5 x 1,5 kilometer, mengelilingi kompleks ini sampal ke pinggir Sungai Kampar Kanan. Di dalam kompleks ini terdapat beberapa bangunan candi yang disebut dengan Candi sulung /tua, Candi Bungsu, Mahligai Stupa dan Palangka.

Para pakar purbakala belum dapat menentukan secara pasti kapan situs candi ini didirikan. Ada yang mengatakan abad keempat, ada yang mengatakan abad ketujuh, abad kesembilan bahkan pada abad kesebelas. Namun candi ini dianggap telah ada pada zaman keemasan Sriwijaya, sehingga beberapa sejarahwan menganggap kawasan ini merupakan salah satu pusat pemerintahan dari kerajaan Sriwijaya.

Sejarah singkat Candi Boko

  1. LETAK GEOGRAFIS GUGUSAN CANDI MUARA TAKUS

 

 

Letak desa Muara Takus

Desa Muara Takus terletak didalam wilayah Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau – Indonesia. Jarak tempuh dari Pekanbaru ( Ibukota Provinsi Riau ) menuju kedesa tersebut sekitar 128 KM. Perjalanan menuju desa Muara Takus, hanya dapat dilakukan melalui jalan darat.

 

Asal nama Muara Takus

Muara takus berasal dari nama sebuah anak sungai kecil bernama “takus” yang bermuara ke batang Kampar kanan. Menurut salah seorang duta besar Singapore untuk

Indonesia, yang telah berkunjung ke muara takus pada tahun 1977, mengatakan bahwa muara takus berasal dari dua kata “ muara “ dan “ takus “ .

Lebih lanjut dia mengatakan, “muara” pengertiannya sudah jelas yaitu suatu tempat dimana anak sungai mengakhiri alirannya ke laut atau ke sungai yang lebih besar, sedangkan kata “takus” berasal dari bahasa China yaitu ta, ku dan se. Ta berarti besar, ku berarti tua sedangkan se berari candi. Jadi kalau kita gabungkan arti keseluruhan dari kata Muara Takus adalah : candi tua ( the old temple ) besar / megah yang terletak di muara sungai.

 

Letak Gugusan Candi Muara Takus

Gugusan candi Muara Takus terletak di garis khatulistiwa 0.021 lintang utara dan 100.039 bujur timur. Dikelilingi oleh tembok yang terbuat dari batu putih, yang berukuran 74 m X 74 m, dan terletak dipinggir jalan yang menghubungkan antara desa Muara Takus tersebut dengan desa Tanjung Kecamatan XIII Koto Kampar.

 

Digugusan ini terdapat beberapa candi sebagai berikut :

1. Candi Mahligai

2. Candi Palangka

3. Candi Bungsu

4. Candi Tua

5. Bangunan I

6. Bangunan II

 

 

Menurut para ahli, jumlah keseluruhan candi tersebut sebanyak 7 (tujuh) gugusan. Jadi masih ada tiga candi yang belum ditemukan bangunannya. Bangunan I (satu)

diperkirakan tempat pembakaran mayat dan Bangunan II (dua) diperkirakan bangunan candi yang belum diketahui nama dan bentuknya.

 

 

  1. LATAR BELAKANG SEJARAH GUGUSAN CANDI MUARA TAKUS

 

1. Penemuan

Gugusan candi Muara Takus pertama kali ditemukan oleh Cornet De Groot pada tahun 1860, hasil penemuannya dituangkan dalam sebuah tulisan yang berjudul “ Koto Candi “.

 

2. Penelitian

 

  1. W.P. GROENEVELD

Pada tahun 1880, seorang berkebangsaan Belanda yang bernama diatas mengadakan penelitian terhadap gugusan candi Muara Takus. Hasil penelitian tersebut merupakan kunci dari tulisan singkat Verbeek dan Van Delden.

 

  1. R.D.M VERBEEK DAN E.TH. VAN DELDEN

Kemudian pada tahun 1880 Verbeek dan Van Delden berdasarkan hasil tulisan W.P Groeneveld mengatakan bahwa bangunan purbakala tersebut adalah bangunan Budha yang terdiri dari Biara dan beberapa candi.

Pada tahun 1881 Verbeek dan Van Delden menulis pendapatnya tentang keberadaan candi Muara Takus dengan judul “ De Hindoe Ruinen Bij Moeara Takus Aan De Kampar Rivier “ .

CERITA-CERITA RAKYAT

 

i. Kerajaan di Muara Takus

Menurut Shahibul Hikayat, penduduk hulu sungai Kampar berasal dari keturunan putri Sri Dunia yang datang dengan keluarganya dari Pariangan Padang Panjang. Konon seorang raja Hindu meminang putri Sri Dunia dan setelah menikah dia kemudian mendirikan sebuah kerajaan di Muara Takus, yang keturunannya dapat ditemukan dsini ( Muara Takus ).

Pada suatu hari, raja Hindu tersebut kembali ke negerinya, saat itu datang segerombolan orang batak yang juga menganut agama Hindu, tetapi kota kerajaan ini telah ditinggalkan.

Putri Sri Dunia rupanya telah kawin dengan seorang datuk anak laki-laki yang diberi nama Induk Dunia, yang kemudian hari menjadi raja di Muara Takus keturunannya adalah RAJA PAMUNCAK DATUK DUBALAI. Raja terakhir di Muara Takus adalah RAJA BICAU. Konon kota Muara Takus sangat luas sehingga kalau seekor kucing berjalan menjelajahi kota dari atap keatap rumah memerlukan waktu selama tiga bulan baru sampai kembali ketempat semula.

 

ii. Desa Pongkai

Pongkai adalah sebuah nama desa yang terletak disebelah hilir batang Kampar lebih kurang 8 km dari desa Muara Takus. Menurut cerita rakyat tempatan batu bata yang digunakan untuk membangun candi yang ada di Muara Takus tersebut, dibuat didesa Pongkai ini.

Pongkai berasal dari bahasa China, yang terdiri dari dua kata “pong” yang artinya lobang, dan “kai” yang berarti tanah. Jadi arti keseluruhannya adalah lubang tanah.

Tempat pembuatan batu bata tersebut dapat disaksikan didaerah pongkai berupa lobang tanah yang luas tempat pengambilan tanahnya untuk dijadikan batu bata. Batu bata itu setelah dibuat di desa Pongkai, pada awalnya dibawa melalui sungai ke Muara Takus. Karena mengangkut melalui sungai tersebut dirasakan sangat berat maka cara pengangkutannya dirubah dengan memakai tenaga manusia yang dibariskan mulai dari desa Pongkai sampai ketempat pembangunan candi di Muara Takus. Jadi batu bata itu diangkut secara berantai yang memerlukan tenaga manusia yang banyak, mengingat jaraknya 8 km.
Keunikan Candi Muara Takus
Pesona Candi Muara Takut ini terlihat begitu mengagumkan dimulai dari sebuah stupa yang besar, berbentuk menara yang sebagian besar terbuat dari batu bata dan sebagian kecil batu pasir kuning.

Situs Candi Muara Takus ini terdiri dari 4 bangunan candi yang sangat mempesona yaitu :
1. Candi sulung /tua,
2. Candi Bungsu,
3. Mahligai Stupa,
4. Palangka.

Misteri Candi Muara Takus
Misteri yang sampai saat ini terus menjadi perdebatan adalah kapan didirikan Candi Muara Takus ini? Lalu apa misteri lain dari Candi Muara Takut ini? Ada hal yang saya pribadi merasakan aura lain ketika memasuki stupa besar di Candi ini. Ada aura yang begitu kuat ketika kita menyempatkan untuk duduk sejenak didekat Stupa besar Candi ini dan cobalah pejamkan mata anda sejenak beberapa menit, maka anda kan mendapatkan ketenangan serta kenyamanan yang berbeda dengan tempat lain yang pernah anda kunjungi.

Selain di Stupa utama, di Mahligai Stupa, Palangka maupun di Candi Bungsu yang posisinya menjulang di tengah komplek juga memiliki nilai megis dan kesakralan yang nyata, anda bisa membuktikan sendiri dengan cara memandang ke arah candi, anda akan mendapatkan nuansa lain.

 

 

 

SUMBER : http://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Muara_Takus , http://gustiandri.blogspot.com/2009/06/sejarah-candi-muara-takus_8456.html , http://www.tukiran.com/2012/04/candi-muara-takus.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s